Selasa, 02 Juli 2013
Awas, Syi’ah Mengancam Kita!
Diposting oleh Redaksi ⋅ 26 June 2013 ⋅
Segala puji hanyalah milik Allah Ta’ala.Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Wa ba’du :
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, sesungguhnya bahaya syi’ah bagi kaum muslimin sangatlah nyata.Contoh paling nyata ada di zaman ini, bagaimana saudara-saudara kita di Suriah sedang ditimpa cobaan karena berkuasanya seorang presiden syi’ah, Bashar Al Assad.Al Assad bersama bala tentaranya membantai kaum muslimin di Suriah, membunuhi wanita dan anak-anak, dan memaksa mereka bersujud kepada dirinya.
Hal ini tidaklah samar bagi kaum muslimin yang memiliki perhatian terhadap kondisi saudara-saudaranya di Suriah. Oleh karena itu, dalam rangka memperingatkan kaum muslimin akan bahaya syi’ah –di Indonesia khususnya-, kami ketengahkan kehadapan pembaca bagaimana perbedaan nyata antara kaum muslimin dengan syi’ah serta hitamnya rekam jejak mereka dalam sejarah dunia Islam dari beberapa sumber.
Pembahasan I : Pokok Aqidah Syi’ah yang Dinukil dari Kitab Mereka Sendiri
Al Qur’an milik syi’ah
Dalam kitab Al Kafi –yang bisa dikatakan “Shahih Bukhari”-nya orang syi’ah- karya Al Kulaini, dinukil riwayat bahwa syi’ah memiliki Al Qur’an yang berbeda, “Dari Abu Bashir, ia menuturkan : ‘Aku pernah masuk menemui Abu Abdillah (Ja’far Ash Shadiq), ia berkata, “Dan sesungguhnya kami memiliki mush-haf fathimah ‘alaihas salaam”. Aku bertanya, “Apa mush-haf fathimah itu?”.Ia menjawab, “Mush-haf seperti Al Qur’an kalian itu. Tiga kali lipat (tebalnya).Sungguh, demi Allah, tidak ada di dalamnya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian!”(Al Kafi, hal. 57 edisi 1278 H di Iran)
Abu Bakar dan ‘Umar di sisi syi’ah
Syi’ah menyebut Abu Bakar dan ‘Umar dengan sebutan “dua berhala Quraisy” dalam do’a mereka.Dalam kitab mereka yang berjudul Mafatihul Jinan halaman 114, bunyi do’a tersebut adalah, “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Dan kutuklah dua berhala, dua sesembahan, dan dua tukang sihir Quraisy (yakni Abu Bakar Ash Shiddiq dan ‘Umar bin Khaththab-red), dan kedua anak wanita mereka berdua…”.Yang mereka maksud dengan dua anak wanita mereka berdua adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Ummul Mukminin Hafshah –semoga Allah meridhai mereka dan seluruh sahabat.
Hari terbunuhnya ‘Umar Al Faruq adalah hari raya
Ali bin Muzhahir –salah seorang tokoh mereka- meriwayatkan dari Ahmad bin Ishaq Al Kummi –syaikh dan pemuka-nya orang syi’ah- bahwa hari pembunuhan ‘Umar bin Al Khaththab adalah hari raya (‘ied) terbesar, hari pengagungan dan hari keberkahan.
Bahkan pembunuh ‘Umar, Abu Lu’lu’ah Al Majusi, dijuluki sebagai “Baba syuja’uddin” (Bapak pemberani).
Taqiyyah, senjatanya orang syi’ah
Itulah segelintir aqidah yang diyakini orang syi’ah.Sangat terlihat jelas perbedaan mereka dengan kaum muslimin.Mungkin fakta di atas sia-sia belaka bagi orang yang termakan tipuan orang syi’ah karena mungkin saja orang syi’ah tidak mau mengaku kalau mereka punya aqidah seperti ini.Tapi justru kebohongan dan kemunafikan ini adalah bagian dari aqidah syi’ah yang mereka sebut sebagai taqiyyah.
Dalam kitab Al Ushul minal Kafi bab At Taqiyyah jilid II halaman 219, disebutkan bahwa imam ke-5 mereka, Muhammad Al Baqir, meriwayatkan suatu hadits –menurut mereka- yang bunyinya, “Taqiyyah adalah kebiasaanku dan kebiasaan bapak-bapakku. Dan tidak beriman orang yang tidak bertaqiyyah!”
Maka janganlah tertipu wahai kaum muslimin!!
Pembahasan II : Lembar Hitam Syi’ah dalam Sejarah Dunia Islam
Jatuhnya Kota Baghdad
Pada tahun 656 H, Hulagu Khan (Raja Tatar) berhasil menguasai kota Baghdad yang saat itu menjadi pusat peradaban Islam di bawah kekuasaan Bani Abbasiyyah. Keberhasilan invansi Tatar ini tidak lepas dari peran 2 orang Syi’ah, yaituMu`yyiduddin Muhammad Ibnul Alqamy (menteri khalifah Mu’tashim –khalifah pada masa itu-) dan Nashirudin Ath Thusi (penasehat Hulagu).
Ibnul Alqamy mengusulkan kepada khalifah untuk mengurangi jumlah pasukan dengan alasan untuk menghemat biaya.Hal itu pun diikuti oleh khalifah.Padahal itu ialah taktik untuk melemahkan kekuatan pasukan.Hingga akhirnya jumlah pasukan yang semula 100.000 menjadi hanya 10.000.
Selain itu, Ibnu Alqamy juga memberi motivasi kepada Hulaguuntuk menguasai Baghdad. Itu semua ia lakukan demi memberantas sunnah, menampakkan bid’ah rafidhah, dan mengganti kekuasaan dari Bani Abbasiyyah kepada Alawiyyah.
Pasukan Hulagu pun kemudian bergerak menuju Baghdad dan berhasil menguasai sebagian wilayah Bagdad.Mereka membunuh para ahli fiqih dan tokoh Islam pada masa itu, salah satunya adalah Muhyiddin Ibnul Jauzi.Lalu, pembantaian berlanjut kepada seluruh penduduk Bagdad. Tidak ada yang tersisa dari penduduk kotaBagdad kecuali yang bersembunyi, (termasuk khalifah Muktashim sendiri ikut dibunuh). Pembantaian tersebut berlangsung selama 40 hari dengan korban tewas mencapai satu jutaorang.
Selain peran Ibnul Alqami, peristiwa ini juga tidak lepas dari peran seorang Syi’ah lainnya bernama Nashirudin At Thushi, penasehat Hulagu yang dari jauh-jauh hari telah mempengaruhi Hulagu untuk menguasai kota Bagdad. [Lihat Al Bidayah wa Al Nihayah, vol. 13, hal. 192, 234 – 237, Al-Nujuum Al Zaahirah fii Muluuk Mishr wa Al Qahirah, vol. 2, hal. 259 – 260]
Syi’ah Qaramithah
Al Hafidz Ibnu Katsir dalam (Al Bidayah wa Al Nihayah, vol. 11, hal. 149) menceritakan, di antara peristiwa pada tahun 312 H bulan Muharram, Abu Thahir Al Husain bin Abu Sa’id Al Janabi –semoga Allah melaknatnya- menyerang (merampok dan membunuh) para jemaah haji yang tengah dalam perjalanan pulang dari baitullah dan telah menunaikan kewajiban haji.
Ibnu Katsir juga menceritakan pada tahun 317 H, orang-orang Syi’ah Qaramithah telah mencuri hajar aswad dari baitullah.Orang-orang Qaramithah terus membunuhi orang-orang.Setelah selesai, orang-orang Qaramithah membuang para korban di sumur zamzam dan tempat-tempat di masjidil haram.
Qubbah zamzam dihancurkan, pintu kabah dicopot dan kiswahnya dilepaskan kemudian dirobek-robek.Selama 22 tahun hajar aswad bersama mereka hingga akhirnya mereka kembalikan pada tahun 339 H.
Daulah Shafawiyyah (Cikal Bakal Syi’ah di Iran)
Dahulu, hampir 90% penduduk Iran menganut akidah ahli sunnah bermadzhab Syafi’i. Hingga pada abad ke-10 H tegaklah daulah Shafawiyyah dibawah kepemimpinan Isma’il Ash-Shafawi.Ia pun kemudian mengumumkan bahwa ideologi negara adalah Syi’ah Imamiyyah Itsna Asyriyyah, serta memaksa para warga untuk juga menganutnya.
Ia sangat terkenal sebagai pemimpin yang bengis dan kejam. Sejarah mencatat, ia telah membunuh sekitar satu juta muslim ahli sunnah, merampas harta, menodai kehormatan, memperbudak wanita mereka dan memaksa para khatib ahli sunnah untuk mencela para khalifah rasyidin yang tiga (Abu Bakar, Umar dan Utsman –semoga Allah meridhai mereka) serta untuk mengkultuskan para imam 12.
Tidak hanya itu, ia juga memerintahkan untuk membongkar kuburan ulama kaum muslimin dari kalangan ahli sunnah dan membakar tulang belulangnya.
Iatelah membunuh puluhan ribu ahli sunnah. Hingga ia pun berhasil menyerang Baghdad dan menguasainya [dinukil dari Tuhfatul Azhar wa Zallaatu al Anhar, Ibnu Syaqdim As-Syi’i via al Masyru’ al Irani al Shafawi al Farisi, hal. 20 -21]
Suriah kini
Dan yang paling terbaru adalah apa yang terjadi di Suriah saat ini. Seorang presiden syi’ah, Bashar Al Assad, dengan sokongan negri syi’ah, Iran, dan kelompok Hizbullah pimpinan Hasan Nasrullah, membantai warganya sendiri, ahlus sunnah Suriah. Mereka membunuh anak-anak, wanita, dan orang lanjut usia, serta memperkosa, mengebom rumah sakit, dan lainnya. Begitulah syi’ah.Sepanjang zaman selalu membuat sejarah hitam kelam.Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin di Indonesia berhati-hati dengan tipu daya syi’ah. Seandainya syi’ah dibiarkan berkembang di negri ini, tidaklah mustahil Indoesia akan menjadi Suriah selanjutnya. Semoga Allah menyelamatkan kita dan seluruh kaum muslimin di dunia dari kejahatan syi’ah dan bala tentaranya.
[Redaksi]
Diringkas dari :
“Mungkinkah Sunni & Syi’ah Bersatu?” karya Syaikh Muhibbudin Al Khatib, cet. Pustaka Muslim
Potret Kejahatan Syi'ah dalam Sejarah
Info : Donasi Suriah Peduli Muslim
Tragedi kemanusiaan Suriah belum berhenti sampai sekarang.Ribuan nyawa melayang akibat kekejaman pemerintahan Syi’ah “Bashar Al-Assad”.Pembunuhan, pemerkosaan, intimidasi, dan penyiksaan menjadi pemandangan yang mewarnai hari demi hari rakyat Suriah, yang tak kunjung berhenti hingga sekarang.
Berkaitan dengan hal di atas, Yayasan Pendidikan Islam AlAtsari bermaksud untuk mengajak segenap kaum muslimin yang memiliki kemampuan, untuk membantu kesusahan yang sedang dialami saudara-saudara kita Suriah tersebut. Kaum muslimin yang ingin memberikan donasinya, dapat menyalurkannya melalui:
BNI Syariah Yogyakarta dengan nomor rekening 024.191.3801 atas nama Yayasan Pendidikan Islam AlAtsari
Donatur yang telah menyerahkan bantuan, dimohon memberikan sms konfirmasi ke nomor HP: 0896.3612.86.89 (Taufik Raharjo), dengan format sebagai berikut:
DonasiSuriah#Nama#Alamat#JumlahTransfer#Bank# TanggalTransfer
Contoh: DonasiSuriah#Muhammad#Semarang#1.000.000#Mandiri#21/11/2012
atau, dapat juga memberikan konfirmasi transfer melalui email: donasi@pedulimuslim.com
Sumber: Buletin At Tauhid
Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?
Oleh: AM Waskito
Bertahun-tahun silam pernah diadakan diskusi antara seorang Ustadz dari PP Persis Bandung dengan Jalaluddin Rahmat (tokoh Syiah asal Bandung). Dalam makalahnya, Ustadz Persis itu tanpa tedeng aling-aling membuat kajian berjudul, “Syiah Bukan Bagian dari Islam”.
Ketika sessi dialog berlangsung, Ustadz Persis itu -dengan pertolongan Allah- mampu mematahkan argumen-argumen Jalaluddin Rahmat. Kejadiannya mirip, ketika dilakukan diskusi di Malang antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz-ustadz Persis Bangil; ketika merespon lahirnya buku Islam Aktual, karya Jalaluddin Rahmat.
Ada satu momen penting menjelang akhir diskusi di Bandung itu. Saat itu Jalaluddin mengatakan, “Kalau memang Syiah dianggap sesat dan bukan bagian dari Islam, mengapa Pemerintah Saudi masih memperbolehkan kaum Syiah menunaikan Haji ke Tanah Suci?” Nah, atas pernyataan ini, tidak ada tanggapan serius dari para Ustadz di atas.
Ternyata, Mereka Masih Butuh Tanah Suci (Makkah & Madinah).
Dan ternyata, kata-kata serupa itu dipakai oleh Prof. Dr. Umar Shibah, tokoh Syiah yang menyusup ke lembaga MUI Pusat. Ketika kaum Syiah terdesak, dia mengemukakan kalimat pembelaan yang sama. “Kalau Syiah dianggap sesat, mengapa mereka masih boleh berhaji ke Tanah Suci?”
Lalu, bagaimana kalau pertanyaan di atas disampaikan kepada Anda-Anda semua wahai, kaum Muslimin? Apa jawaban Anda? Apakah Anda akan memberikan jawaban yang tepat, atau memilih menghindar?
Sekedar catatan, konon dalam sebuah diskusi antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz M. Thalib (sekarang Amir MMI). Saat disana ada kebuntuan argumentasi, katanya Ustadz M. Thalib menantang Jalaluddin melakukan “diskusi secara fisik” di luar. Ya, ini sekedar catatan, agar kita selalu mempersiapkan diri dengan argumen-argumen yang handal sebelum “bersilat” pemahaman dengan orang beda akidah.
Mengapa kaum Syiah masih boleh masuk ke Tanah Suci, baik MakkahAl Mukarramah maupun Madinah Al Munawwarah?
Mari kita jawab pertanyaan ini:
PERTAMA, sebaik-baik jawaban ialah Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Tahu sebenar-benar alasan di balik kebijakan Pemerintah Saudi memberikan tempat bagi kaum Syiah untuk ziarah ke Makkah dan Madinah.
KEDUA, dalam sekte Syiah terdapat banyak golongan-golongan. Di antara mereka ada yang lebih dekat ke golongan Ahlus Sunnah (yaitu Syiah Zaidiyyah-meski sebagaian ulama sudah mengatakan Syiah Zaidiyyah sudah tergolong sesat dengan Syiah lainnya-Red), ada yang moderat kesesatannya, dan ada yang ekstrim (seperti Imamiyyah dan Ismailiyyah). Terhadap kaum Syiah ekstrim ini, rata-rata para ulama tidak mengakui keislaman mereka. Nah, dalam praktiknya, tidak mudah membedakan kelompok-kelompok tadi.
KETIGA, usia sekte Syiah sudah sangat tua. Hampir setua usia sejarah Islam itu sendiri. Tentu cara menghadapi sekte seperti ini berbeda dengan cara menghadapi Ahmadiyyah, aliran Lia Eden, dll. yang termasuk sekte-sekte baru. Bahkan Syiah sudah mempunyai sejarah sendiri, sebelum kekuasaan negeri Saudi dikuasai Dinasti Saud yang berpaham Salafiyyah. Jauh-jauh hari sebelum Dinasti Ibnu Saud berdiri, kaum Syiah sudah masuk Makkah-Madinah. Ibnu Hajar Al Haitsami penyusun kitab As Shawaiq Al Muhriqah, beliau menulis kitab itu dalam rangka memperingatkan bahaya sekte Syiah yang di masanya banyak muncul di Kota Makkah. Padahal kitab ini termasuk kitab turats klasik, sudah ada jauh sebelum era Dinasti Saud.
KEEMPAT, kalau melihat identitas kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, ya rata-rata tertulis “agama Islam”. Negara Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al Tsaurah Al Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”.
KELIMA, kebanyakan kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, mereka orang awam. Artinya, kesyiahan mereka umumnya hanya ikut-ikutan, karena tradisi, atau karena desakan lingkungan. Orang seperti ini berbeda dengan tokoh-tokoh Syiah ekstrem yang memang sudah dianggap murtad dari jalan Islam. Tanda kalau mereka orang awam yaitu kemauan mereka untuk datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah itu sendiri. Kalau mereka Syiah ekstrim, tak akan mau datang ke Tanah Suci Ahlus Sunnah. Mereka sudah punya “tanah suci” sendiri yaitu: Karbala’, Najaf, dan Qum. Perlakuan terhadap kaum Syiah awam tentu harus berbeda dengan perlakuan kepada kalangan ekstrim mereka.
KEENAM, orang-orang Syiah yang datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah sangat diharapkan akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.
KETUJUH, hadirnya ribuan kaum Syiah di Tanah Suci Makkah-Madinah, hal tersebut adalah BUKTI BESAR betapa ajaran Islam (Ahlus Sunnah) sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun para ulama dan kaum penyesat Syiah sudah bekerja keras sejak ribuan tahun lalu, untuk membuat-buat agama baru yang berbeda dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah; tetap saja fitrah mereka tidak bisa dipungkiri, bahwa hati-hati mereka terikat dengan Tanah Suci kaum Muslimin (Makkah-Madinah), bukan Karbala, Najaf, dan Qum.
KEDELAPAN, kaum Syiah di negerinya sangat biasa memuja kubur, menyembah kubur, tawaf mengelilingi kuburan, meminta tolong kepada ahli kubur, berkorban untuk penghuni kubur, dll. Kalau mereka datang ke Makkah-Madinah, maka praktik “ibadah kubur” itu tidak ada disana. Harapannya, mereka bisa belajar untuk meninggalkan ibadah kubur, kalau nanti mereka sudah kembali ke negerinya. Insya Allah.
KESEMBILAN, pertanyaan di atas sebenarnya lebih layak diajukan ke kaum Syiah sendiri, bukan ke Ahlus Sunnah. Mestinya kaum Syiah jangan bertanya, “Mengapa orang Syiah masih boleh ke Makkah-Madinah?” Mestinya pertanyaan ini diubah dan diajukan ke diri mereka sendiri, “Kalau Anda benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?”
Demikian sebagian jawaban yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat. Pesan spesial dari saya, kalau nanti Prof. Dr. Umar Shihab, atau Prof. Dr. Quraish Shihab (dua tokoh ini saudara kandung, kakak-beradik; bersaudara juga dengan Alwi Shihab, Mantan Menlu di era Abdurrahman Wahid), beralasan dengan alasan tersebut di atas; mohon ada yang meluruskannya. Supaya beliau tidak banyak membuang-buang kalam, tanpa guna.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
Sumber: Islampos.com
Kategori:
Syi'ah
Senin, 01 Juli 2013
Meraih Pahala Sebelum Tidur Dengan 7 Hal
1.
Menutup Pintu, Memadamkan Api (Lampu),
Menutup Bejana
Dianjurkan bagi seorang muslim untuk
menutup pintu, memadamkan api (lampu), dan menutup bejana yang ada di rumahnya
sebelum tidur. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat
Jabir bin Abdillah radhiyallahu‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
“Padamkanlah lampu di malam hari apabila kamu akan tidur, tutuplah pintu,
tutuplah rapat-rapat bejana-bejana makanan dan minuman.” (HR
Bukhori-Muslim).
2.
Berwudhu
Anjuran
untuk berwudhu sebelum tidur dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh sahabat Al Baro’ bin ‘Azib bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
“Jika kamu
mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu
berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari dan Muslim).
3.
Membersihkan Tempat Tidur
Dianjurkan pula untuk mengibaskan kain pada
tempat tidur sebanyak tiga kali sebelum berbaring. Anjuran ini berdasarkan
hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah
mengibaskan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak
tahu apa yang ada di atasnya…”.
Di dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa
jumlah kibasan yang dianjurkan adalah sebanyak tiga kali (HR. Bukhari dan
Muslim).
4.
Berbaring pada Bagian Kanan Badan
Posisi awal yang dianjurkan ketika tidur
adalah dengan menumpukan badan pada bagian kanan badan dan dianjurkan
pula untuk menjadikan tangan kanan sebagai bantal untuk kepala. Hal ini
berdasarkan hadits yang telah dibawakan di atas, bahwasanya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah seperti wudhu untuk
shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur beliau meletakkan tangan
kanannya di bawah pipi kanannya (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan
Ibnu Hibban). Adapun ketika telah terlelap tidak mengapa jika posisi badan
berubah.
5.
Membaca beberapa surat/ ayat Al Qur’an
Ada beberapa surat/ayat yang dianjurkan
untuk dibaca menjelang tidur. Diantaranya:
a. Al Ikhlas, Al
Falaq, dan An Naas, ‘Aisyah radhiyallahu‘anha berkata, “Nabi
shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam,
beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, lalu kedua telapak tangan tersebut
ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu
birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An
Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh
yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau
melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari)
b. Ayat Kursi,
hal ini berdasarkan hadits yang diriwiyatkan oleh sahabat Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari).
c. Dua ayat
terakhir dari surat Al-Baqoroh,berdasarkan sabda Rasulullah
shallallahu ’alaihi wa sallam “Barangsiapa membaca dua ayat tersebut pada malam
hari, maka dua ayat tersebut telah mencukupkan-nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
d. Surat Al Kafirun,
berdasarkan sebuah hadits yang mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi
wa sallam mengajarkan sahabat Naufal untuk membaca surat Al Kafirun sebelum
tidur (HR Abu Dawud, Ahmad, dan At Tirmidzi).
e. Surat Al Mulk
dan As Sajdah, hal ini berdasarkan penjelasan sahabat Jabir bin
Abdillah, beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam
tidur sampai beliau membaca alif lam mim tanzilus sajdah (surat As Sajdah) dan
Tabarokalladzi biyadihil mulk (surat Al Mulk)” (HR Bukhari).
6.
Membaca beberapa Dzikir dan Do’a
Ada banyak dzikir dan do’a yang diajarkan
oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk dibaca sebelum tidur.
Berikut diantaranya:
a. “Bismikallahumma amuut wa ahyaa” (HR
Bukhari)
b. “Allahumma qiini ‘adzabaka yauma tab’atsu i’badak”
(HR Abu Dawud)
c. “Bismikarabbii wa dho’tu jambii wa bika arfa’uhu in
amsakta nafsii farhamhaa wa in arsaltahaa fahfazhhaa bimaa tahfazha bihi
‘ibaadakasshaalihiin.” (HR Bukhori dan Muslim)
7.
Menjauhi hal-hal makruh
Ada beberapa hal yang makruh yang
sepatutnya dijauhi untuk dilakukan sebelum tidur. Diantaranya:
a. Makruh tidur di atas dak terbuka,
berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat `Ali bin Syaiban
bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak
ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya” (HR.
Bukhari).
b. Makruh tidur dalam posisi telungkup (perut
sebagai tumpuan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya cara berbaring
seperti ini (telungkup) adalah cara berbaringnya penghuni neraka“. (HR
Ibnu Majah)
Demikian diantara amalan-amalan ringan yang
bisa dilakukan oleh seorang muslim sebelum tidur. Semoga Allah memudahkan kita
dalam setiap kebaikan di sisa umur kita. Amiin.
[Muhammad Rezki Hr]
Diterjemahkan dan diringkas dari: Kitabul
Adab, Bab Al Adab An Naum, Karya Syaikh Fuad ‘Abdul Aziz Asy Syalhub.
Sumber: Buletin Muslim.Or.Id
Tata Cara Mandi Junub (Mandi Besar)
Beberapa penyebab wajibnya kita untuk mandi besar adalah
keluarnya mani, kemaluan suami masuk ke kemaluan istri (meskipun tidak keluar
mani), menstruasi, dan nifas... Dalam pembahasan ini, saya ingin menjelaskan
tata cara mandi junub yang mudah...
1.
Niat
Ingat!!! Suatu amalan itu tergantung
niatnya. Jadi, berniatlah untuk mensucikan diri sebelum mandi. Ingat juga,
bahwa letak niat itu dalam hati bukan lisan.
2.
Berdoa masuk
kamar mandi
Jangan lupa berdoa dahulu sebelum masuk
kamar mandi.
“Alloohumma innii a’uudzu bika minal khubutsi wal
khobaaits.
Artinya :
“Ya
Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan
kotoran”.
3.
Membersihkan
kemaluan yang terkena mani dengan air
Mulailah dengan membersihkan kemaluan dari
mani dengan air menggunakan tangan kiri. Untuk ini, pastikan benar-benar
bersih. Jangan sampai masih tersisa mani dikemaluan.
4.
Membersihkan
dubur (cebok)
Jangan lupa untuk cebok. Pastikan juga
dubur terkena air dan bersih.
5.
Mencuci tangan
Setelah membersihkan kemaluan dan cebok,
cucilah tangan hingga bersih.
6.
Membaca
basmallah dan berwudhu
Bila tangan sudah bersih, bacalah basmallah
“BISMILLAH” (Dengan menyebut nama
Allah). Dan berwudhulah:
a.
Cuci pergelangan tangan, hingga pergelangan
tangan basah semua. (Disunnahkan 3x)
b.
Kumur dan basuh lubang hidung. (Disunnahkan 3x)
c.
Membasuh muka hingga benar-benar basah semua.
(Disunnahkan 3x)
d.
Mencuci kedua tangan hingga siku hingga
benar-benar basah semua. (Disunnahkan 3x)
e.
Membasahi rambut dan kedua telinga. Untuk rambut
tidak perlu basah semua. (Disunnahkan 3x)
f.
Lalu bershalawatlah. “Asyhadu
alla illaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh”,...
g.
Wudhu khusus untuk mandi besar (junub) hanya
sampai telinga. Untuk membasahi kaki ada diakhir mandi.
7.
Membasahi
rambut
Basahilah rambut hingga benar-benar basah
hingga sela-sela rambut. Bila ingin melakukan sesuai yang diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam . Basahi
kedua tangan, lalu secara bertahap basahi sela-sela rambut dengan tangan yang
sudah basah tadi hingga sela-sela rambut basah semua (dan masuk kepori-pori).
Rambut harus basah semua hingga air masuk kepori-pori.
8.
Menyiram
seluruh badan hingga basah semua
Setelah yakin kalau rambut basah semua,
siramlah air keseluruh badan. Sebenarnya ada sunnah lainnya saat menyiram
seluruh badan, tapi bila ingin cepat maka yang paling penting seluruh badan
terbasahi dengan air. Tanpa terkecuali, dari ujung rambut hingga kaki harus
basah semua.
9.
Mencuci kaki
Karena diawal saat berwudhu hanya sampai
telinga yang dibasahi. Bila sudah pasti dari ujung rambut hingga kaki basah,
basahilah kedua kaki seperti halnya berwudhu.
10.
Berdoa keluar
kamar mandi
Bila semua diatas sudah dilakukan, maka
sudah selesai mandi besar (junub). Berdoalah keluar kamar mandi.
“Alhamdu
lillahil ladzii adzhaba ‘annil adzaa wa’aafaanii.”
Artinya :
“Segala puji bagi Allah yang telah
menghilangkan kotoranku dan membuatku sehat”.
SEMOGA BERMANFAAT. . . Barokallahu fiikum. .
.
Langganan:
Postingan (Atom)



